Anak-anak Itu….

Dua hari lalu dua siswa saya bolos. Guru mata pelajaran melaporkan hal itu kepada saya. Sebagai wali kelas, saya menindaklanjuti laporan itu.

Mereka bolos pada jam ke-3 dan 4. Mata pelajarannya Matematika.

Sebelumnya, saya sudah wanti-wanti, kalau ada keperluan pada jam sekolah dan ingin keluar, harus laporan dulu. Kalau ada masalah, jangan sungkan-sungkan membicarakannya. Namun hari itu saya merasa dibohongi oleh kenekadan mereka.

Mungkin ini masalah sepele. Tapi sebagai wali kelas IX (kelas III SMP), saya berusaha menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Kenakalan-kenakalan kecil termasuk bolos, tidak lepas dari pantauan saya.

Mereka — para siswa — adalah anak-anak yang baik. Sama seperti anak-anak lainnya yang bersekolah di desa. Ketemu di jalan mereka selalu menyapa ramah. Namun disiplin tetaplah disiplin. Mereka harus diperkenalkan, diajarkan, dan dibiasakan sejak dini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Terhadap anak yang bolos tadi, mereka saya nasihati dan ingatkan akan aturan sekolah. Terakhir saya minta mereka belajar bertanggung jawab: menemui sang guru Matematika, jujur dan minta maaf atas kelalaian mereka.

Keduanya patuh dan menemui sang guru Matematika. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Terus terang, kadang saya tidak bisa marah, terutama dengan kelas yang saya pimpin. Ternyata imbasnya juga baik. Mereka merasa hormat. Di samping merasa hormat, mereka kadang juga kreatif.

Ketika hal ini saya terapkan pada kelas lain, ternyata efeknya sama. Dari sana saya kemudian mencoba mengubah cara mendidik. Model yang saya lakukan adalah model kasih sayang. Pada saat mereka diperhatikan dengan kelembutan bicara, dengan pemahaman akan masa depan, dan sentuhan-sentuhan yang manusiawi, hasilnya jauh lebih bermakna dibandingkan harus marah-marah, teriak, dengan ancaman, dan sejenisnya. Alhamdulillah, saya merasa puas dan bahagia.

Tentu kebahagiaan itu akan lebih lengkap saat mereka sukses tentunya.

Dengan pancaran keramahan, pengertian, motivasi ke arah kemajuan, semua pasti bisa lebih baik. Tidak ada pekerjaan yang sulit kalau dalam diri kita sudah tidak lagi menganggap sesuatu itu sebagai sesuatu yang sulit. Kepada anak-anak pun saya mengatakan hal itu, terutama saat mereka merasa khawatir dengan persiapan ujian nasional yang akan mereka hadapi.

Anak-anak itu, sungguh begitu berartinya…

dari arsip tulisan di http://zulmasri.wordpress.com 18 April 2008

~ oleh mastermasri71 pada 27 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: