Libur nan Sepi

Lebaran sudah tiba. Itu artinya liburan juga membayang di depan mata. Pada saat sebelum, ketika, dan sesudah lebaran, liburan bagi saya tetap hari-hari membosankan.

Barangkali banyak yg senang dg hari libur. Tapi bagi saya, libur lama hanya bikin hati sepi. Saya senang kerja. Libur sehari atau 2 hari dalam seminggu cukuplah sudah.

Makanya, bila musim libur tiba saya sering bingung sendiri. Mau ngapain ya? Bermain-main dg anak istri lama-lama ya kepengen variasi yg lain. Mau pergi sendiri, nggak tega. Mau ngajak anak, kayaknya masih kecil, baru 4 bulan. Jadilah di rumah, ngobrol dg tetangga, menunggu senja. Ah, hari-hari membosankan.

Lalu mau apa? Ngeblog? Inspirasi sering pergi bila sepi dari kegiatan. Jadi? Mumet juga.

Nonton cd/dvd? Bosan. Paling tahan 2 film. Mau tidur? Mau makan?

Dalam masyarakat modern, rasa sepi & bosan seringkali menyergap individunya manakala kebiasaan-kebiasaan menjadi kewajiban. Bìla hal itu tidak dilaksanakan, yg muncul adalah rasa sepi, bosan, & adanya sesuatu yg hilang. Lalu?
***

Semilir angin masih ada. Berembus di sela ventilasi. Angin kemarau. Kering dan panas.

Di Utara, Laut Jawa, mendung. Tapi seperti kemarin, juga kemarin-kemarinnya, tak ada hujan yg curah.

Diterawangkan pandangannya lebih jauh. Di Utara pantai pulau
Jawa, sebuah perkampungan nelayan Batang. Ia membayangkan seorang anak kecil terlahir. Anak yg bermain-main dg anak-anak pantai lainnya tahun 1940-an. Anak yg cerdas, punya pikiran liar, gak mau kalah dengan sang kakak, hobi membaca yg luar biasa. Dialah Goenawan Mohamad.

Lelaki itu tercenung. Di Utara pantai pulau Jawa, di perkampungan nelayan Batang, di wilayah tempat bermain sastrawan dan wartawan Goenawan waktu kecilnya, ia terhenyak. Adakah bekas waktu mengembalikan seseorang menikmati sensasi hidup seseorang?

Lelaki itu kemudian menaiki motornya. Diarahkan motornya itu menuju Pekalongan. Dilewatinya daerah Poncol, lapangan Sorogenen, dan singgah di Jalan Bandung kota Pekalongan. Di sini pun lelaki itu terbayang seorang lelaki seperti halnya Goenawan Mohamad. Muda, pintar, dan suka membaca. Dialah Taufik Ismail.

Lelaki itu beberapa kali ketemu Taufik. Tapi tentu saja pertemuannya bukan dg Taufik muda lagi. Terakhir ia saksikan lelehan air mata sang penyair saat membaca puisi kisah ‘Seorang Tukang Rambutan kepada Istrinya’ di SMA 1 Pekalongan.
***

Lelaki itu kemudian tersadar. Ia ingat banyak hal yg mestinya bisa dikerjakannya.

Lelaki itu,… saya.

dari arsip catatan di http://zulmasri.wordpress.com 3 Agustus 2008

~ oleh mastermasri71 pada 28 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: