Kidung Rindu Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas, ibu… ibu…

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas, ibu… ibu….

mak
Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.

Saya memanggil ibu dengan sapaan mak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang tua. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.

Setiap saat, setiap waktu, saat melihat anak saya bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak ribuan kilo. Ibu yang masih setia berada di kampung halaman. Sebuah desa atau kampung yang berada di Sumatera Barat sana. Sementara aku, anaknya, jauh di rantau, Pekalongan, daerah pantura Jawa Tengah.

Sudah dua tahun saya tidak bertemu ibu. Terakhir ibu datang ke Pekalongan saat aku menikah. Gurat ketuaan begitu kentara di usia beliau yang telah lebih dari 70 tahunan.

Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sudah menjadi orang tua dan punya istri serta anak.
***

Sejak bapak meninggal, praktis ibu berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya (saya dan saudara-saudara saya). Bapak meninggal saat saya berusia 10 tahun, saat masih duduk di bangku SD kelas IV. Banyak yang menyarankan agar ibu menikah lagi. Tapi saran-saran yang diberikan hanya ditanggapi ibu dengan senyum. Kecintaan ibu pada mendiang bapak dan anak-anaknya mengakibatkan ibu tak mau membagi rasa kasihnya kepada lelaki lain. Ibu terus menjanda, membagi perhatian secara penuh pada anak-anaknya.

Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang tak pernah bersekolah dan tidak bisa tulis baca. Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah, pesan mendiang bapak selalu diingat dan diterapkan ibu dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.

Rata-rata tamat SMP atau SMA kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Dua anak ibu (nomor 2 dan 3) setelah merantau, kembali ke kampung halaman. Saya sendiri sebagai anak kelima merantau ke tanah Jawa setelah selesai kuliah. Dalam pencarian diri akhir 1996, setelah beberapa bulan di Jakarta, jadilah saya kemudian menetap di pesisir utara pulau Jawa, yakni Pekalongan.

Tahun 1997 awal saya mula menetap di Pekalongan. Hingga kini berarti sudah 11 tahun.

Beberapa kali saya pulang ke kampung, bertemu dengan ibu dan sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau Jawa, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.

Terakhir saya pulang tahun 2002. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu. Ibulah yang berkunjung ke Pekalongan, setelah sebelumnya mampir di tempat famili lainnya di Jakarta. Hampir tiap tahun ibu berkunjung ke tanah Jawa.

Ada keinginan pulang ke Sumatera. Keinginan pulang bersama istri dan anak. Mungkin saja itu akan bisa terlaksana saat Putra, anak saya, berumur 2 tahunan. Jadi ya, harus menunggu dulu.

Kini, di daerah utara pulau Jawa, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.

Dan di bebukitan Sengare, rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.

dari arsip catatan di http://zulmasri.wordpress.com 31 Januari 2009

~ oleh mastermasri71 pada 29 Maret 2010.

4 Tanggapan to “Kidung Rindu Ibu”

  1. hoho
    maaf ijin mengamankan pertamax dulu disini buleh kan heheh

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    makasih😀

  2. doh, jadi inget mak di kampung, pak zul. sudah lama saya ndak sungkem sama emak.

  3. salam kenal,,kunjungi blogku ya,q mau bagi2 ilmu gratisan disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: