Pecinta Hujan

Kalau kau ingin tahu apa yang selalu kudamba dan kunanti, tentu tanpa ragu kujawab, “Hujan.” Hujan dengan keindahan air yang curah senantiasa membawa rasa yang nyaman. Hujan dengan alunan nyanyian di daun-daun menciptakan kesejukan suasana.

“Tapi ingat, hujan juga menumbuhkan rasa was-was, khawatir dan duka,” ungkapmu. “Banjir, tanah longsor, bahkan kadangkala merenggut nyawa.”

“Iya juga. Tapi musibah terjadi karena ulah manusia sendiri,” ungkapku. “Andai saja alam tak digerogoti semena-mena…”
***

Hujan masih curah. Hampir tiap hari saya menembus hujan. Melaju dengan sepeda motor sambil tak lupa mengenakan jas hujan, menempuh jarak sekitar 80 kilometer pulang pergi ke dan dari tempat kerja. Sebagai pecinta hujan, saya menikmati alunan hujan yg curah.

Tapi dua hari lalu, di tengah perjalanan bannya kempes. Ada paku yang nancap. Jalanan sepi, gerimis. Di kiri kanan jalan hanya ada sawah dan semak-semak kecil.

Jadinya nuntun motor, 2 km di jalanan berbukit hingga ketemu bengkel.

Hujan…, ah. Rasanya ingin menari bersama curahnya.

Bagaimana dg pembaca? Suka hujan juga? Atau sebaliknya?

dari arsip catatan di http://zulmasri.wordpress.com 18 Januari 2009

~ oleh mastermasri71 pada 29 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: